Kompas 2009-07-07/e-Paper: Nusantara
Denpasar- Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, tidak memiliki visi dan misi kepariwisataan. Hal itu antara lain ditandai keputusan Bupati Wilfridus Fidelis Pranda yang mengizinkan lokasi penambangan di zona wisata sekaligus kawasan penyangga Taman Nasional Komodo.
Hal itu disampaikan anggota DPR asal Manggarai, Cypri Aoer, melalui telepon kepada Kompas, Senin (6/7). ”Masyarakat yang peduli lingkungan sepantasnya menolak pertambangan yang berlokasi di zona wisata,” kata Aoer.
Manggarai Barat belakangan ini memanas terkait kebijakan bupati mengizinkan investor melakukan penambangan di Batugosok. Lokasi pertambangan itu sekitar 10 kilometer utara Labuan Bajo, kota Kabupaten Manggarai Barat. Batugosok dan Labuan Bajo terletak di pantai barat Pulau Flores yang langsung menghadap Taman Nasional Komodo (TNK) habitan binatang langka komodo.
Menurut Cypri Aoer, pariwisata bisa memberantas kemiskinan. ”Jika Pemkab Manggarai Barat memiliki pemahaman baik mengenai hal itu, bupati tidak mungkin mengizinkan kawasan wisata menjadi lokasi tambang,” katanya.
Sebaliknya, pemkab seharusnya mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana pariwisata. Perkembangan pariwisata memiliki multiefek yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Hal itu, misalnya, pendapatan petani bisa meningkat dari menjual hasil kebun, seperti sayuran atau buah, ke hotel. Masyarakat bisa bekerja di hotel, menjadi pemandu wisata atau membuat usaha biro perjalanan.
”Membiarkan kawasan pariwisata menjadi kawasan penambangan adalah jalan pintas akibat kekerdilan kebijakan pemkab dalam membangun daerahnya. Padahal, komodo adalah aset dunia yang dilindungi,” papar Aoer.
Terus menolak
Di Labuan Bajo, massa yang bergabung dalam Gerakan Masyarakat Antitambang (Geram) mengagendakan aksi lanjutan menolak penambangan di Batugosok dan lokasi lain di Manggarai Barat.
”Kami akan berunjuk rasa setelah pilpres dan terus melakukan aksi penentangan hingga Bupati Manggarai Barat menghentikan aktivitas tambang di daerah ini,” kata Bernadus Baratdaya, Koordinator Geram lewat telepon di Labuan Bajo, Senin petang.
”Kami mungkin akan menduduki kantor bupati dan mengepung kantor DPRD Manggarai Barat di Labuan Bajo,” ujar aktivis Geram lain, Feri Adu, menambahkan.
Aktivitas penambangan emas di Batugosok hingga Senin tetap berjalan. Dua menara pengeboran (rig) tetap mengebor.
Filed under: Nasional













ia memang bupati pranda secara sepihak menandatangani kerja sama dgn investor pertambangan, tapi ingat kemajuan/perubahan di mabar hanya berkat usaha n rencana dari Bupati W.F.Pranda, belum ada usaha dari pihak lain, yg ada dari pihak lain hanyalah ketidakpuasan, protes n tidak mau kalah dgn Bupati. mhs fisipol universitas warmadewa, Dps, Bali.
ingat potensi yang sangat menonjol di mabar adalah pariwisata,
Ini bukan masalah ketidakpuasan pada sebua kebijakan melainkan aspirasi penyempurnaan sebua kebijakan.potinsi yang utama di mabar adalah pariwisata,ini adalah potensi yang kongkrit dan realistis sebagai penopang pembangunan untuk kesejatraan masyarakat mabar,jangan sampai kebijakan yang kita tempu tidak sesuai dengan realita kehidupan masyarakat mabar dengan potensi2 yang ada.kami sangat bangga atas kebijakan dan inisiatif pemda untuk menggali semua potinsi alam yang ada di mabar,asalkan sesuai dengan keinginan masyarakat dan kondisi geografis di mabar,dan harus melalui obserfasi kelayakan tempat jangan sampai berpengaruh negatif terhadap dampak lingkungan sekitar apalagi kalau merugikan masyarakat sekitar.kehadiran tambang di batu gosok saya pribadi tidak setuju,pemekaran areal pariwisata,100% saya setuju.”pemerhati mabar”
Ingat ,……!potensi yang sangat menonjol di mabar adalah pariwisata,ini adalah potensi yang kongkrit dan realistis untuk membangun mabar seutunya,kenapa kita mencari sesuatu yang baru yang hasilnya belum jelas,tanpa melihat apa yang ada didepan mata kita sendiri,saya kira ini bukan masalah ketidakpuasan pada sebua kebijakan,melainkan aspirasi penyempurnaan sebua kebijakan yang didasari realita kehidupan masyarakat mabar dengan potensi2 yang ada.kami sangat menghargai atas kebijakan dan inisiatif dari pemda-mabar untuk menggali semua potensi alam yg ada asalkan kebijakan itu sesuai dgn kondisi linkungan sekitar dan harus melalui obserfasi kelayakan tempat,jangan sampai bedampk negatif terhadap linkungan sekitar apalagi kalau merugikan masyarakat banyak.”PEMERHATI MABAR”.
pariwisata di MABAR kalo dibenahi dengan lebih baik lagi, maka orang MABAR akan MAKMURRRR. DARATA.
Orang MABAR harus punya kebanggaan yang bisa ditonjolkan. Dan KEBANGGAAN itu hanyalah KOMODO. jadi jangan sia-siakan itu pak FIDELIS. Ingat nanti akibatnya akan kita tanggung bersama. bukan hanya masyarakat di sekitar areal tambang. Memang kekuasaan, uang bisa membuat kita takabur. Lupa akan eksistensi kita sebagai manusia.
Untuk Kornelis E. Jaok. Kraeng kita punya orang ini tidak ada nanti yang betul-betul menikmati hasil tambang karena nanti hasilnya itu akan dihisap ke tempat lain. Supaya Kraeng juga bisa tahu, kemajuan di MABAR itu atas usaha bersama. Bukan HANYA hasil dari seorang FIDELIS PRANDA saja. Sebagian besar orang MABAR hidup dari pertanian. KALAU semua lahan yang potensial buat pertanian dipakai untuk pertambangan nanti kita makan apa ? Mangan ?EMAS atau Kraeng sudah biasamakan Mangan dan EMAS, Bukan BERAAAAAAAAAAS