Lembar Informasi 2007-12, Pengolahan dan Pengembangan Madu Alaaha

lembar-informasi-2007-12.jpg

Secara administratif, Desa Alaaha berada di Kecamatan Aluiwoi Kabupaten Kolaka. Daerah ini dihuni sekitar 954 jiwa atau sekitar 237 kepala keluarga (data 2004). Desa ini berada di wilayah pesisir Sungai Konaweha yang dikelilingi empat pegunungan. Di sebelah Utara Pegunungan Tangkelemboke, Selatan: Pegunungan Tamosi. Timur: Pegunungan Latoma. Barat: Pegunungan Mekongga.

Madu merupakan satu dari sekian komoditi unggulan Desa Alaaha (link ke site Alaaha). Sayangnya, pengolahan dan pemasarannya sangat tradisional sehingga belum mampu mendongkrak perekonomian masyarakat Alaaha ke tingkat yang lebih baik dan berkelanjutan. Beberapa kawasan penghasil madu di Sulawesi Tenggara antar lain Kecamatan Uluiwoi, Kecamatan Mowewe yang berada di Kabupaten Kolaka dan Kecamatan Ambekaeri Kabupaten Konawe.

Di Desa Alaaha sendiri, produksi madu terbaik (berkualitas dan kental) dipanen pada musim kemarau, antar Oktober- November. Pada musim ini, petani bisa memanen hingga 20 – 30 ton madu. Sedang produksi menurun kualitasnya (encer) pada bulan Maret – April, karena curah hujan tinggi sehingga lebah tidak rajin mengumpulkan sari dari bunga-bunga di sekelilingnya. Umumnya petani tidak begitu antusias memanen madu pada musim ini, sehingga produksi madu juga turun drastis, tidak mencapai 1 ton. Karena kualitas madu yang begitu rendahnya tersebut, harga di pasaran anjlok Rp 3500 per kg, bandingkan dengan madu kental yang dijual dengan harga Rp. 9.500 per Kg.

Di luar dari semua kerja-kerja tersebut, petani madu telah membantu mengawasi kerusakan hutan di wilayah Alaaha. Sebagai penyangga daerah aliran sungai, daerah Alaaha dan belasan desa sekitarnya melakukan tindakan arif dan sederhana untuk memperbaiki tingkat kualitas hidupnya. Apa yang dilakukan petani adalah mengolah hasil hutan non kayu tanpa merusak kayu-kayu itu.

YASCITA sendiri,punya harapan lebih dari sekedar pengolahan, pengemasan dan pemasaran tradisional ini. Budidaya lebah madu adalah alternatif terbaik yang sedang diusahakan untuk petani madu Alaaha untuk meningkatkan income tapi juga memperbaiki mutu lingkungan hidup. Makanan lebah seperti nektar dan tepungsari banyak terdapat pada bunga-bunga yang indah seperti bunga matahari. Dari segi peningkatan perluasan pemasaran dan pendapatan, diharapkan pihak perbankan mengambil peran selaku agent of development, agar pengolahan dan pemasaranan madu Alaaha lebih profesional.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Moh.Ramadhan Posumah (0852 5060 1028)
yascita@kendari.wasantara.net.id
Amir Mahmud (0813 4173 1737)
azzahramir@yahoo.co.id


Bahan dan alat yang digunakan oleh masyarakat Alaaha dalam mengolah madu masih tergolong sederhana seperti:
1. Bambu kering berdiameter 10 – 15 cm, atau dapat diganti dengan 4 batang bambu kering berdiameter 5 cm.
2. Daun secukupnya, untuk membungkus bambu.
3. Rotan kecil secukupnya yang akan digunakan sebagai pengikat
4. Jerigen/ember untuk menampung madu.
5. Jaring berdiamter 1 mm, yang akan digunakan sebagai penyaring.
6. Parang, api kecil, kapas dan minyak tanah secukupnya.

Cara merakit bambu dan memanen madu :
1. Bambu kering di bungkus daun hingga tertututp rapat tanpa celah. Bambu dan daun kemudian dikencangkan dengan dililitkan tali dari bahan rotan tersebut.
2. Salah satu ujung bambu di berikan kapas yang sudah dicelupkan dalam minyak tanah untuk menstimulan api untuk menghasilkan asap secukupnya. Asap yang sudah banyak tanpa api lagi itu, akan dijadikan sebagai pengumpan pengusir lebah dari sarangnya.
3. Jika kepulan asap sudah cukup banyak, bambu kemudian dibalik arah, dengan bagian yang terbakar itu di bawah dan bagian yang tidak terbakar itu diatas. Hal ini dimaksudkan, agar kepulan asap bisa naik ke bagian atas bambo dan distribusi asap juga merata.
4. Jarak 30 cm dari bibir bambu bagian atas (yang ada kepulan asapnya) , diberi tali dari rotan sebagai pegangan untuk nanti bamboo akan dibawah naik ke atas pohon untuk mengusir lebah dewasa yang masih tersisa saat petani memanen.
5. Petani kemudian mendekatkan bambu yang ujungnya telah menghasilkan banyak asap ke sarang lebah untuk mengusir lebah dewasa.
6. Jika lebah-lebah dewasa telah meninggalan sarangnya, petani lalu memanjat pohon tempat sarang lebah berada dengan membawa jerigen/ember untuk menampung madu.
7. Sebagian sarang lebah yang biasa disebut lilin (beeswax), di buang dan sebagian lainnya di masukan ke jerigen. Bagian yang dibuang adalah bagian tempat huni bayi lebah yang tidak menghasilkan madu. Sedangkan bagian yang dimasukan ke jerigen adalah bagian tempat huni lebah dewasa yang menghasilkan banyak madu.
8. Jika telah selesai memanen dari pohon, petani turun untuk kemudian di tadah oleh petani lain untuk dipisahkan lilin dan madunya.
9. Setelah terpisah, madu disaring dengan penyaring dari dari jaring.
10. Madu kemudian siap di pasok ke distributor-distributor yang siap tadah untuk dipasarkan lebih lanjut.

2 Responses

  1. Saya membutuhkan Lilin Lebah Madu Hutan / Beeswax / Bees Wax. Apa ada informasi mengenai ini dan kita bisa bekerja sama?

    Tolong infonya,

    Best regards,
    Ahmad Yanuardi

  2. Ini no. Hp saya 08158036206. Saya tdk punya no.kntak Bapak. Bgmn?

Leave a Reply